Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 11 Desember 2011

Mei Hua Yang Melegenda


Bunga Mei Hua 1
Bunga Mei Hua memiiki daun yang kecil-kecil berwarna merah muda dengan kombinasi keputih-putihan. Cuantik bangettt!

Nah, saat Imlek tiba, pohon Mei Hua ini suka ditambahkan pernak-pernik aksesoris, seperti angpau-angpau kecil dan lampion-lampion kecil dari kertas warna untuk dijadikan pelengkap dekorasi ruangan.

Tapi sebenarnya, pohon ini tak hanya sekadar pelengkap dekorasi ruangan saat Imlek saja. Pohon Mei Hua juga dianggap sebagai lambang harapan, keuletan, kebahagiaan, dan kesejahteraan. Uniknya, ternyata pohon ini mampu berkembang di sepanjang musim, tak peduli musim dingin atau musim panas.

Bunga Mei Hua 2


Legenda
Dikisahkan, kakak beradik Da Jui (Si Mulut Besar) dan Da Shou (Si Tangan Besar) memiliki sifat bertolak belakang. Da Jui berupaya menguasai harta adiknya dengan cara mengusirnya.

Dia yang pemalas dan serakah itu memberi si adik dengan bagian harta yang sedikit, yakni 3 rumah sederhana, 10 hektare sawah tandus, seekor anjing dan kambing. Karena sifat buruknya itu, lama-kelamaan harta Da Jui menipis. Bahkan keledai dan kuda pun dijual untuk membeli bahan makanan.

Bunga Mei Hua 3

Da Shou dan keluarganya tetap berupaya bekerja keras. Dengan dibantu anjing dan kambingnya, ia mengerjakan sawah dengan tekun. Akhirnya hasil mereka berlimpah dan memiliki banyak cadangan makanan untuk musim dingin.

Melihat kesuksesan Da Shou, timbul niat jahat Da Jui untuk membunuh anjing dan kambing adiknya itu. Kedua hewan itu mati setelah makanannya ditaburi racun. Tentu saja keluarga Da Shou berduka. Lalu kedua hewan itu dimakamkan di pekarangan belakang rumah mereka.

Ketika memasuki musim semi tahun kedua, di atas makam tersebut tumbuh dua batang pohon kecil. Satu dari pohon tersebut bisa menghasilkan emas, sedangkan batang yang lain menghasilkan perak. Sejak itu kehidupan Da Shou menjadi makmur.

Dari cerita tersebut, kini masyarakat Tionghoa berupaya meneladaninya dengan memajang pohon mei hua setiap perayaan tahun baru Imlek.

sumber:  http://www.kidnesia.com/Kidnesia/Sekitar-Kita/Pengetahuan-Umum/Bunga-Mei-Hua

Tidak Akan Hilang Jika Memang Milikmu

 

Tidak akan hilang jika memang milikmu, tetapi jika memang bukan milikmu bagaimanapun anda menginginkannya tetap tidak akan diperoleh. Ini adalah prinsip alam semesta, tetapi ada berapa orang yang benar-benar percaya kepada prinsip ini? Manusia hidup didunia ini seumur hidup bertarung untuk mendapatkan apa yang diinginkan, menghalalkan segala cara sehingga menimbun banyak dosa dan karma.

Ini adalah sebuah cerita dimasa kecil saya yang sering diceritakan oleh orang-orang tua yang bijaksana.

Di China bagian selatan ada sebuah desa, didesa ini ada seorang kaya, orang kaya ini ada seorang pembantu lelaki, ayah pembantu ini semasa hidupnya juga bekerja untuk orang kaya ini, seumur hidup bekerja dengan rajin, sehingga mengumpulkan banyak pahala baik untuk keturunannya.

Pada suatu malam, dewa langit yang bertugas mengumpulkan harta menitipkan sebuah mimpi untuk pembantu lelaki ini, didalam mimpi ayahnya yang sudah meninggal berpesan kepadanya, besok sore menyuruhnya datang ke kandang kuda membersihkan kotoran kuda. Di bawah tumpukan kotoran kuda ada sebuah kantong biru, didalamnya berisi 10 batang emas, ayahnya berulang kali berpesan kepadanya, diantara 10 batang emas ini hanya 1 batang milikmu, yang 9 batang lagi adalah milik majikannya, ayahnya menyuruhnya harus mengembalikannya kepada majikannya jangan dijadikan milik sendiri, karena itu memang bukan milikmu.

Sesuai dengan pesan dimimpinya, pembantu lelaki ini pergi ke kandang kuda membersihkan kotoran kuda, benar saja dibawah kotoran kuda dia menjumpai sebuah kantong biru didalamnya berisi 10 batang emas, seumur hidupnya dia belum pernah melihat begitu banyak emas, hatinya mulai goyah, timbul niat jahatnya, dia berpikir emas ini bisa membuat dia kaya raya seumur hidupnya, sehingga tidak perlu lagi bekerja, selanjutnya dia bisa menikmati hidup enak. Pembantu lelaki ini berpikir emas ini dia yang menemukan, tidak ada sedikit hubungan dengan majikannya, dia bermaksud mengambil semua emas ini menjadi milik dirinya sendiri.

Setelah makan malam, pembantu lelaki ini bermaksud membawa pulang 10 batang emas ini. Dia lalu pergi menemui majikannya dan berkata, “Sudah dekat tahun baru, sebenarnya saya masih mau bekerja beberapa hari lagi, tetapi istri saya sudah mau melahirkan, saya bermaksud pulang lebih cepat membantunya.” Majikannya sangat perhatian dengan gembira menyetujuinya.

Rumah pembantu lelaki ini tidak jauh, hanya ½ jam bisa sampai. Akhirnya pembantu lelaki ini membawa 10 batang emas tersebut berjalan pulang kerumahnya.

Diantara 10 batang emas ini, hanya 1 batang yang karena ayahnya berbuat amal sehingga menjadi milik pembantu lelaki ini, sedangkan yang 9 batang adalah karena orang tua majikan kaya ini berbuat amal meninggalkannya untuk majikan kaya ini. Pembantu lelaki ini membawa pulang 10 batang emas ini, membuat dewa langit menjadi marah. Dewa langit berubah menjadi perampok, menunggu dijalan yang akan dilewati pembantu ini, ingin memberi pelajaran kepada pembantu lelaki ini.

Pembantu lelaki ini sambil mengantungi 10 batang emas dengan gembira berjalan pulang kerumahnya, di jalan dia bertemu dengan seorang yang tinggi besar dengan wajah bengis.

Lelaki tinggi besar ini mendekatinya, setelah berada didepannya meninju wajahnya. Dengan pisau ditangan lelaki bengis ini berkata, “Cepat serahkan semua emas yang engkau bawa, jika tidak saya tidak akan membiarkanmu hidup!” Pembantu lelaki ini ketakutan dari kantongnya dia mengeluarkan 9 batang emas sambil berkata, “hanya ini, semuanya sudah saya keluarkan.” “Bohong, cepat keluarkan semuanya!” Pemuda ini demi menyelamatkan nyawanya mengeluarkan seluruh emasnya dan menyerahkannya kepada lelaki bengis ini, Lelaki bengis ini menyepak pembantu ini jatuh ketanah lalu pergi meninggalkannya.

Pembantu ini setelah melihat lelaki bengis ini sudah pergi menjauh, lalu perlahan dia bangkit seperti mimpi, dengan linglung dia kembali kerumahnya. Setelah sampai dirumahnya dia hanya bilang kepada istrinya bahwa dia sudah sangat lelah, tidak berkata apa-apa lagi. Istrinya melihat keadaannya suaminya berpikir sudah seharusnya lelah sudah bekerja seharian, lalu dia meladeni suaminya untuk dapat istirahat secepatnya.

Dewa langit untuk menyelesaikan tugasnya, lalu dia berubah menjadi seorang tua berkunjung ke rumah majikan kaya ini, dan berkata, “Saya tahu, ayahmu sudah meninggal, semasa hidupnya ayahmu adalah partner bisnis saya. Ayahmu menitipkan 10 batang emas, yang sembilan batang adalah milik kamu, dan yang satu batang adalah milik pembantu lelakimu, engkau harus menyerahkan kepadanya, tidak boleh menjadi milikmu.” Setelah berkata demikian orang tua ini dari kantongnya mengeluarkan 10 batang emas menaruhnya diatas meja, lalu menghilang dari tempat itu.

Setelah orang tua ini menghilang, majikan kaya ini tahu hari ini dia sudah bertemu dengan dewa, apa yang dipesan dewa harus dipatuhi dia tidak berani membantah, dia bermaksud bergegas pergi kerumah pembantunya. Setelah ½ jam majikannya sampai dirumah pembantunya, berkata kepada pembantunya, “Engkau sudah sepanjang tahun bekerja dirumah saya, sudah sangat capek, istrimu sudah akan melahirkan, saya tahu engkau tentu perlu uang, saya hadiahkan sebatang emas ini kepadamu semoga istrimu dapat melahirkan dengan selamat, semoga keluargamu dapat berbahagia di tahun baru ini.” Setelah berkata demikian majikannya menaruh sebatang emas diatas meja, pembantu lelaki ini juga menjadi bengong, apapun tidak bisa diucapkannya, didalam hatinya terngiang pepatah, “Tidak akan hilang jika memang sudah menjadi milikmu, tetapi jika bukan menjadi milikmu, bagaimanapun engkau tidak akan mendapatnya.”

Sumber:  http://erabaru.net

Sabtu, 03 Desember 2011

Kesempatan Hidup

Tuhan tidak akan memaksa seseorang sampai meninggal tanpa meninggalkan sebuah jalan keluar. Setiap orang mempunyai potensi untuk beradaptasi. Selama kita memiliki keyakinan, keberanian, semua pasti akan berlalu, Tuhan pasti meninggalkan sebuah jalan keluar.


Manusia ketika menemukan kesulitan, ketika semuanya berjalan dengan tidak lancar, pasti akan putus asa, dan mengatakan Tuhan tidak adil kepadanya. Dunia oh dunia, demikian luas, tidak mungkin tidak ada tempat untuknya.” Ada juga orang yang berpikir untuk bunuh diri, daripada hidup dengan susah payah dan tidak bermartabat, untuk apa hidup? Namun, setelah berjalan di bawah bayang-bayang pohon willow, pasti ada sebuah kecerahan di desa lain.

18 tahun yang lalu, di India didaerah Nadu, ada seorang pemuda yang bernama swami, dia tidak berpendidikan, hanya dapat bekerja keras untuk hidup. Akhirnya karena krisis ekonomi, ia diberhentikan dari tempatnya bekerja, akhirnya benar-benar menjadi sangat miskin, makan sehari 3 kali saja tidak cukup, akhirnya dia menjadi pengemis.

Tetapi, di India fakir miskin sudah terlalu banyak, bahkan pengemis terdapat di segala tempat, sangat sulit mengemis. Nah, orang miskin, tidak mempunyai rumah, berkeliaran disegala tempat, gelandangan ada dimana-mana, sungguh membuat orang menjadi sedih!

Pemuda lajang ini tidak mempunyai uang sepeserpun, seluruh badannya kotor dan bau, lalu dia berpikir, daripada mati kelaparan, lebih bagus sekarang bunuh diri saja, dengan martabat mengakhiri hidup sendiri! Oleh sebab itu, Swami mengambil selembar kaca yang ada dipinggir jalan, dipecahkan menjadi lembaran kecil, lalu menelannya; dia berpikir, dengan demikian pecahan kaca ini didalam perutnya, tidak akan dapat dicerna, akhirnya pasti akan meninggal.

Tetapi, ketika dia telah menelan selembar potong kaca, keesokan harinya ketika dia terbangun, tanpa terjadi insenden! Mulutnya juga tidak luka, perutnya juga tidak sakit, buang air besar juga normal, sedikitpun tidak terasa tidak nyaman!

Oh Tuhan, bagaimana hal aneh ini bisa terjadi? Menelan kaca bagaikan memakan kerupuk saja,”keretak-keretak” tetapi perutnya sama sekali tidak sakit. Akhirnya Swami coba lagi menelan selembar kaca, keesokan harinya, perutnya tidak terasa sakit. Pada saat ini, dia baru menyadari, bahwa perutnya mempunyai fitur spesifik dapat mencerna kaca!

Ketika gelandangan ini menceritakan hal ini kepada teman-temannya, tentu saja mereka semua tidak percaya, menyebutnya “Sudah gila, sembarangan berkata, otaknya pasti sudah miring!” Tetapi, dia langsung mendemokan kepada teman-temannya, dihadapan mereka dia menelan potongan-potongan kaca, membuat semua temannya tertegun tidak bisa berbicara apapun, hanya bisa percaya saja!

Akhirnya semangat hidup Swami bangkit lagi, dia tidak ingin mati lagi, mulai menampilkan “pertunjukan memakan kaca”. 18 Tahun kemudian, dia tetap bersemangat tinggi, pergi kesegala penjuru menampilkan pertunjukan keahliannya memakan kaca.

Dia berkata, selain botol minuman ringan yang terlalu keras, membuat dia tidak bisa mencerna, kaca apapun dia tetap makan! Sebenarnya, banyak orang memiliki potensi bakat dasar, hanya mereka sendiri tidak mengetahuinya, sehingga tidak bisa dikembangkan! Sungguh manusia memiliki potensi untuk beradaptasi, hanya dengan keyakinan dan keberaniaan, maka orang tersebut dapat menemukan jalan hidupnya, Tuhan akan memberi kesempatan dan menunjukkan jalan hidup untuknya.

Sepatah Kata

Ketika perang dunia II, seorang novelis Inggris terkenal bernama Rodríguez, pergi tempat pemakaman di pinggiran kota Inggris memberi penghormatan terakhir kepada temannya yang mati muda. Setelah berdoa, ia beranjak pulang.

Diluar dugaan, tak jauh dari makam temannya, ia melihat sebuah batu nisan baru tertulis “Seluruh dunia boleh saja menjadi gelap, tetapi tidak membuat sebatang lilin kecil kehilangan cahayanya.” Kalimat yang aneh, tetapi langsung menghangatkan hati Rodriguez.

Pada awalnya dia mengira ini adalah pepatah dari seorang yang terkenal. Tetapi setelah kembali dia mencari berbagai buku tidak dapat menemukan sumber dari perkataan tersebut. Karena penasaran dia kembali ke tempat pemakaman tersebut dan bertanya kepada penjaga makam.

Dari penjelasan penjaga makam ini dia mengetahui yang terkubur dibawah batu nisan ini adalah seorang anak lelaki kecil berumur 10 tahun, ketika serangan bom udara Jerman membom Inggris, anak ini tewas terkena bom, ibu anak lelaki kecil dengan sangat sedih memakamkan anak ini dan diatas batu nisannya menulis perkataan tersebut.

Perkataan ini menimbulkan kegairahan Rodriguez seketika menulis sebuah esai singkat, esai ini mendorong semangat sejumlah pemuda berdedikasi anti Nazi untuk maju ke garis depan berjuang melawan Nazi.

Kalimat ini juga mendorong seorang pemuda lulusan universitas terkenal bernama Blake, yang akan direkrut oleh beberapa perusahaan terkenal melepaskan kesempatan ini, tanpa memperdulikan nasehat keluarga dan teman-teman pergi ke Afrika, disana menerangi sepetak tanah yang terang. Akhirnya PBB menganugrahi dia dengan gelar “Duta Besar Untuk Fakir Miskin.”

Perkataan ini bahkan terinspirasi oleh seorang guru tua, juga menghidupkan kembali cahaya lilinnya yang telah lemah, pergi ke tempat terpencil menolong sepasang suami istri yang berumur 80 tahun lebih, ke penjara menjenguk seorang siswa yang dipenjara karena membuat kesalahan, mendorong menyalakan kembali semangat hidupnya. Kalimat ini, tidak mendesak, tidak mengandung kekerasan, tidak menakutkan, tidak mengeluh, tidak mengambang. Tetapi mengandung sebuah kekuatan sejati, kekuatan dari cinta seorang ibu yang tulus, sebuah kata yang paling kuat dan paling damai. Kekuatan sejati.

Jumat, 02 Desember 2011

Siapa yang Benar-benar Teman Sejati?

Pada musim semi, sebatang pohon buah daunnya hijau lebat. Pada musim gugur pohon buah ini berbuah, buah terlihat kuning keemasan sangat menggiurkan. Seekor burung jalak terbang ke pohon tersebut, dengan suara keras berteriak memuji pohon tersebut.

“Pohon yang subur, engkau terlihat indah dengan buah-buah pohon ini.” Pohon setelah mendengar pujian tersebut berkata kepada burung jalak, “Teman, tinggallah ditempat saya!.”

Kemudian, seekor burung kenari terbang ke pohon ini, menghadap pohon ini sambil bernyanyi, “Pohon ini sangat hijau, buahnya sangat wangi, sangat bagus.” Pohon berkata kepada burung kenari ini, “Jika engkau ingin memakan buah, silahkan ambil saja!”

Seekor burung pelatuk terbang ke pohon ini, dia mematuk-matuk disana sini di badan pohon buah, membuat pohon buah sangat kesakitan, sambil menjerit kesakitan berteriak kepada burung pelatuk, burung pelatuk berkata, “Saya melihat di dalam tubuh anda ada seekor ulat, saya ingin mematuknya keluar, jika tidak, maka anda akan sakit. “

Si pohon dengan
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...